Tadi pagi, ada peristiwa yang menginspirasi saya untuk
menulis article ini. Saya hendak meminta peluru dan sasaran tetapi saya tunda
karena pelatih saya sedang telepon lama sekali. Akhirnya saya tinggal ganti
baju dulu, sampai saya kembali pun belum selesai. Karena menurut saya mengajak
bicara saat orang sedang telepon itu tidak sopan. Saya tunggu sampai teleponnya
selesai, ternyata telepon itu meminta orang yang bertugas menjaga pasokan untuk
mengambil sasaran dan peluru. Spontan saya bilang, "lho pak, saya
juga". Disitulah saya dimarahi, kenapa nggak daritadi? orang yang bertugas
pun juga memarahi saya, kenapa nggak pagian bilangnya? Disinilah timbul sedikit
konflik batin di benak saya, tapi karena saya mau latihan menembak ya saya
cuekin aja. Saya agak penasaran, apa sih yang sebenarnya terjadi? Saya mencoba
menganalisa kejadian tadi secara ilmiah. Ternyata hubungannya erat dengan
menembak, terutama bagian psikologis.
Kejadian diatas biasanya sebagai fetakompli (fait accompli
dalam istilah asing), dimana kita di hadapkan atau lebih tepatnya di jebak
secara terang-terangan untuk tidak boleh tidak, bahwa kita harus setuju atas
apapun yang dia ucapkan atau dia lakukan dengan standar yang dia buat sendiri
secara sepihak. Dengan kata lain kita di benturkan pada dua buah pilihan yang
sama-sama bukan merupakan pilihan yang tepat. Kita di “skak mat”.
Jadi ternyata saya di "skak mat". Saya bersyukur
saya tidak merespon kejadian seperti itu. Karena ternyata